• Sabtu, 2 Juli 2022

Sasakala Desa Kedungkancana Kecamatan Ligung Majalengka

- Selasa, 31 Agustus 2021 | 13:48 WIB
FB_IMG_16304058369306721
FB_IMG_16304058369306721

ABCHANNEL.ID- Nama Desa Kedungkancana konon menurut cerita tokoh desa adalah pemberian dari seorang Bupati yang bernama “Omdali” (sumber: Abah Suhandi Almarhum). Kata Kedungkancana berasal dari dua kata yaitu Kedung dan Kencana (sumber: Dahom almarhum), ada yang mengatakan Kancana (sumber: Durat). Pada masa Kuwu Karmuin sampai masa Kuwu Junaedi cap Kuwu berlabel Desa Kedungkencana, karena Kuwu Karmuin adalah orang jawa, baru pada masa Kuwu Karta dirubah menjadi Desa Kedungkancana. Arti kata Kedung adalah Leuwi atau suatu tempat yang digunakan untuk melaksanakan perencanaan masa depan yang lebih baik, kencana artinya desa yang mempunyai sebuah potensi yang dapat digali (sumber: Dahom almarhum). Ada juga tokoh desa yang mengatakan Kancana berasal dari kata “kanca” yang berarti teman atan persaudaraan (sumber : Durat)

Baca Juga: Sasakala Desa Sukaraja Wetan Kecamatan Jatiwangi Majalengka

Sebelum dibukanya lahan pemukiman di perhutanan yang menjadi cikal bakal Desa Kedungkancana, pada tahun 1918 dibangunlah sebuah sungai untuk mengairi wilayah segi tiga emas Kabupaten Indramayu, Cirebon dan Wilayah Majalengka Utara. Adapun tujuan utama dibanginnya saluran air tersebut adalah sebagai sarana irigasi lahan pertanian di tiga wilayah perbatasan tersebut. Pada awalnya masyarakat di wilayah utara Majalengka kurang menyetujui pembuatan sungai tersebut, namun pada akhirnya masyarakat yang dialiri sungai tersebut menyadari pentingnya kebutuhan air tersebut guna menciptakan sumber vitamin, protein dan lain sebagainya, terutama di musim kemarau, kemudian rakyat bekerjasa bahu membahu membantu proyek penggalian sungai tersebut, kemudian sungai tersebut diberi nama Sungai Sindupraja (Sumber: Medol)

Baca Juga: Sasakala Desa Patuanan, Kecamatan Leuwimunding Majalengka

Setelah sungai sindupraja selesai, ternyata banyak masyarakat Kabupaten Majalengka melirik untuk transmigrasi ke perbatasan sebelah utara untuk dijadikan lahan pemukiman dan pertanian.

Pada tahun 1933 lahan hutan Kedungkancana ditebang oleh ratusan transmigran dari berbagai wilayah. Kemudian pada tahun 1935 sekitar 250 transmigran yang berasal dari 25 desa menempati lahan pemukiman baru di Desa Kedungkancana (Sumber: H. Sardi)

Baca Juga: Ditengah Keterbatasan Fisik, Sudirman Tetap Antusias Laksanakan Ibadah Haji

Pada tahun 1933 di wilayah hutan Kedungkancana masih hidup beberapa hewan yang sekarang sudah langka seperti lutung, maung (harimau), babi, burung hantu, monyet, macan tutul (Sumber: Abah Suhandi). Akan tetapi sehubungan perkembangan populasi hewan tersebut terganggu maka hewan tersebut telah punah.

Desa Kedungkancana mempunyai penduduk yang sangat beragam. Hal ini disebabkan oleh banyaknya transmigran yang menempati pemukiman Kedungkancana. Saking beragamnya masyarakat Desa Kedungkancana generasi milenial sering menyebut desa ini sebagai “Miniatur Indonesia” yang mempunyai semboyan “Bhineka Tunggal Ika” meski berbeda-beda suku

Baca Juga: Aneh Tapi Nyata, 10 Bulan Menikah Ternyata Suaminya Perempuan

tetapi tetap satu tujuan. Menurut para sejarawan tercatat ada sekitar 250 kepala keluarga dari 26 desa yang mengikuti program transmigrasi ke Desa Kedungkancana, hal ini menjadi alasan masyarakat sekitar menjuluki Desa Kedungkancana dengan julukan “Desa Salawe Nagara” (Sumber: Medol)

Adapun data Nama Desa yang penduduknya mengikuti transmigran ke Desa Kedungkancana antara lain:

Baca Juga: Rara Wulandari Ramal Kaesang dan Erina, Pawang Hujan Itu Sebut Mereka Berjodoh

Patuanan

Pasir

Sukaraja

Halaman:

Editor: Administrator

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X